PKS Lawang

Bisakah Kita Satukan Perbedaan Umat Lewat Khilafah?

Juli 15, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Assalamualaikum

Pak ustadz saya memahami mengenai segala jenis perbedaan dalam tubuh umat Islam dan saya sendiri tidak saklek dalam hal perbedaan ini. Contohnya walau saya tidak tahlilan tapi jika ada tetangga dekat mengundang saya akan hadir walau hanya sekadar duduk-duduk saja. Dan tetangga saya pun tidak begitu mempermasalahkan.

Hanya yang jadi pemikiran saya yaitu apakah ini (perbedaan-perbedaan dalam agama) yang dikehendaki Rasul SAW?

Apakah Rasul akan senang jika melihat kondisi umatnya sekarang yang selalu ribut karena perbedaan-perbedaan itu? Karena secara Sunnatullah perbedaan pasti membawa pada pertentangan.

Kecil sekali prosentase ummat di mana perbedaan menjadi berkah. Lihat Indonesia, walau sudah 50 tahun lebih slogan Bhineka Tunggal Ika dikumandangkan tetap saja tawuran dan kerusuhan terjadi.

Apakah ada cara untuk menyatukan perbedaan-perbedaan itu misalnya dengan KeKhalifahan?

Terima kasih ya Ustadz. Mohon maaf jika saya terdengar lancang.

Jazakumullah.

Abdul Hakim Sanjaya
aa5773@gmail.com

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Perbedaan pandangan masalah fiqih adalah sesuatu yang sejak zaman nabi SAW sudah ada. Jadi justru akan tambah aneh kalau sekarang ini malah diributkan.

Perbedaan pendapat itu boleh ada dan memang niscaya ada. Tapi yang haram adalah saling menghina dan saling caci karena perbedaan tersebut. Atau sampai saling mengkafirkan dan membid’ah, sampai tega-teganya tidak mau bertegur sapa.

Sikap keras para ulama terdahulu sebenarnya bukan pada masalah khilafiyah, tetapi pada masalah yang memang secara ijma’ telah disepakati sebagai perbuatan yang keluar dari agama Islam.

Kami telah terangkan di rubrik ini beberapa kasus di mana para ulama memang bersikap sangat keras kepada suatu kelompok. Misalnya sampai perintah untuk memboikot, bahkan tidak mau menshalati jenazahnya.

Sayangnya sikap keras itu kemudian oleh orang-orang yang tidak bertanggung-jawab, ditiru bukan pada tempatnya. Sikap keras itu malah dilakukan justru hanya karena sekedar ada sedikit perbedaan pendapat dalam urusan fiqhiyah, yang nyata tidak ada kaitannya dengan urusan penyimpangan akidah.

Ketika Sufyan At-Tsauri melarang orang-orang menshalatkan jenazah seseorang yang mati, ternyata karena orang itu memang telah divonis kafir oleh Mahkamah Syar’iyah. Bukan karena orang itu sekedar punya pandangan yang berbeda karena memang ada urusan khilafiyah yang belum selesai.

Sikap tegas ulama sekelas Sufyan At-Tauri itu amat wajar, karena seorang yang telah resmi divonis kafir oleh negara berarti dia memang telah resmi menjadi non muslim. Dan haram hukumnya menshalati jenazah non muslim.

Siapapun yang pada hari ini telah murtad dan keluar dari agama Islam, kalau dia meninggal memang tidak perlu dishalatkan.

Tapi kalau ada orang masih merayakan maulidan, karena dalam pandangannya bahwa maulidan itu tidak bid’ah dan tidak membuat dirinya kafir, bagaimana mungkin kita memutuskan untuk tidak menshalatkan jenazahnya. Mana mungkin kita mengatakan bahwa siapa saja yang merayakan maulid maka dia adalah ahli bid’ah dan masuk neraka, lalu jenazahnya tidak boleh dishalati?

Khilafah Bukan Jalan Tetapi Hasil

Kami bukan tidak setuju berdirinya khilafah, namun kalau melihat realitas permasalahan, khilafah bukan jalan untuk mempersatukan umat Islam. Tetapi lebih tepat dikatakan bahwa berdirinya khilafah adalah bukti serta hasil dari telah bersatunya umat Islam.

Umat yang masih centang perenang ini, di mana sebagian besarnya masih anti dan phobi terhadap Islam dan negara Islam, justru akan semakin takut dan phobi kalau yang kita sodorkan adalah khilafah.

Sebab dalam pandangan sebagian besar umat Islam, khhilafah tidak lain adalah sebuah gambaran minor tentang Islam. Dalam pandangan mereka, kalau disebut istilah khilafah, yang terbayang adalah kapak pemenggal kepala, algojo yang siap mencambuk orang, atau hukuman rajam yang tidak berperikemanusiaan.

Umat Islam saat ini telah menjadi korban perang opini sesat. Dan sayangnya opini sesat itu sudah berurat dan berakar. Menghadapi opini sesat yang sudah akut ini perlu taktik dan strategi.

Main Opini: Belajar Dari Zionis Yahudi

Orang-orang yahudi zionis mungkin salah satu di antara kalangan yang pandai bermain opini. Cita-cita mereka mendirikan negara Israel bahkan bukan hanya didukung oleh kalangan mereka sendiri, tetapi dengan propaganda jaringan media massa dunia, mereka berhasil mencuri opini dunia sehingga dunia kita sepenuhnya merasa wajar kalau Israel sebagai sebuah negara harus berdiri.

Lihat bagaimana zionisme international pandai mengaduk-aduk perasaan masyarakat dunia lewat kebohongan peristiwa Holocoustnya. Sampai-sampai kita dibuat merasa harus mendukung berdirinya negara mereka, meski harus dengan membantai jutaan manusia.

Israel adalah khilafah buat Yahudi. Tetapi mereka pandai mempermaikan perasaan bangsa-bangsa muslim di dunia lewat opini yang dikembangkan. Misalnya, dikesankan bahwa yahudi adalah bangsa yang lemah dan patut dikasihani, tidak punya negara dan selalu diperlakukan buruk oleh bangsa-bangsa lain. Jadi wajar dong kalau sekarang punya negara sendiri.

Keadaan bisa di balik, negara-negara Arab justru menjadi teroris ketika tidak menghendaki yahudi zionis mendirikan Israel tepat di jantung negeri mereka, Palestina.

Secara teknis tanpa memperhatikan nilai, banyak kalangan yang mengatakan bahwa teknik memainkan opini dunia yang dilakukan oleh kalangan zionisme yahudi international patut diacungkan jempol, lepas dari kebusukan ajaran mereka.

Mereka pandai membaca situasi dan memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Mereka bisa membuat otak manusia mandul. Mereka bisa membuat para pemimpin negeri muslim jadi kelihatan bodoh. Dan satu lagi prestasi yang juga luar biasa, mereka bisa mengadu domba lawan-lawan mereka sehingga bisa perang saudara.

Soeharto dan Pancasila

Sebenarnya kalau mau belajar main opini tidak perlu jauh-jauh dari yahudi. Di negeri kita pun ada ahlinya. Misalnya mendiang Soeharto, mantan Presiden RI.

Salah satu kepiawaian Soeharto adalah dia tetap menggunakan istilah yang bisa diterima oleh telinga semua bangsa Indonesia, yaitu Pancasila. Siapa yang tidak menerima isitlah ini. Semua golongan, semua kalangan dari semua lapisan pasti sangat menghormati isitlah Pancasila ini.

Lalu dia membuat penafsiran sendiri untuk istilah ini. Orang yang tidak cocok dengan dirinya, bisa dibuat kesan seolah-olah anti Pancasila. Bayangkan, dahulu para tokoh muslim termasuk yang mendirikan dan merumuskan Pancasila ini. Kok bisa-bisanya di masa rezim Soeharto, umat Islam dipojokkan dan dikesankan sebagai anti Pancasila?

Sebabnya adalah Soeharto telah ‘menyelewengkan’ makna Pancasila sesuai dengan kepentingan dirinya. Misalnya dengan membuat Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila yang disingkat dengan P4.

Yang menarik, pemaksaan penafsiran terhadap isi Pancasila sesuai dengan opini dan kepentingan Soeharto ini kemudian bisa dijadikan gerakan massal, sampai semua orang harus ikut penataran P4. Mulai dari siswa sekolah, mahasiswa, pegawai negeri sampai nenek-nenek pun harus ikut penataran P4.

Isinya?

Apa lagi kalau bukan indoktrinasi dan opini yang sekiranya mendukung kebijakan politik dan ekonomi Soeharto dan kroninya.

Tapi lepas dari setuju atau tidak, Soeharto telah berhasil mengangkat sebuah jargon menarik dan tepat yang sekiranya sangat bisa diterima oleh bangsanya, yaitu Pancasila.

Mungkin akan lain ceritanya kalau jargon atau istilah yang digunakan misalnya ‘Soehartoisme’ atau ‘Cendanaisasi’, atau ‘Tututisme’ atau ‘Babeisme’. Bahkan Soeharto cukup pandai ketika tidak menggunakan nama dirinya untuk permainan opini massa. Tapi yang dia pakai adalah nama yang semua pihak bisa menerima, walau pun ternyata isinya telah diputar-balik sesuai isi perutnya sendiri.

Opini Tentang Khilafah

Sebaliknya, kalau boleh diakui, rasanya kita umat Islam sedunia ini telah gagal ketika memainkan opini tentang pentingnya berdirinya negara Islam, atau khilafah.

Sebab belum apa-apa, kesan yang langsung tertayang dalam alam pikiran bawah sadar umat manusia tentang khilafah adalah sesuatu yang kejam, anarkhi, teror dan penuh dengan darah.

Salah satu faktor kenapa demikian, karena umat Islam kurang punya ahli strategi yang memainkan opini. Selain juga kurang punya media massa yang setiap hari 24 jam bekerja secara sistematis.

Alih-alih orang mendukung berdiriya khilafah, yang terjadi justru semakin kita bicara khilafah, semakin takutlah masyarakat dunia tentang khilafah itu.

Mungkin perlu dicarikan jargon dan issue baru yang belum terkontaminasi dengan opini yang buruk. Tetapi intinya tetap mengarah kepada kepentingan-kepentingan syariah Islam. Istilah masyarakat ‘madani’ misalnya, adalah istilah yang cukup akrab di telinga, elegan, bernuansa kemajuan dan terkesan jauh dari urusan darah dan perang.

Istilah ‘masyarakat madani’ ini kalau mau ditarik akar masalahnya, sebenarnya tidak lain dan tidak bukan kembali kepada masyarakat Islam yang menjalankan syariah dan menggapai peradaban yang maju. Dan pada hakikatnya adalah khilafah juga. Cuma kesan yang muncul di benak masyarakat, jauh dari kesan kekerasan dan darah. Setiap orang bisa menerima istilah ini tanpa harus dahinya berkerut sepuluh lipatan.

Padahal masyarakat madani itu ya khilafah Islamiyah. Mau diapakan juga, tetap saja masyarakat madani itu adalah khilafah Islamiyah.

Nah, umat Islam rasanya perlu belajar teknik pengembangan opini positif ini. Biar seperti pemancing ikan profesional, ikannya dapat, gede-gede lagi, tapi airnya tidak keruh dan tetap jernih. Jangan seperti tukang pancing sok tahu yang kalap, sudah habis kolamnya diobok-obok sampai butek airnya, ikannya menghilang dan tidak dapat apa-apa.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc
Sumber: Eramuslim

Kategori: copas aja · harakah · tasqif · tausiyah · tazkiyah