Selasa, 30 Desember 2008 12:09
Pertanyaan
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Ustadz, gimana kalau ada keinginan untuk pindah ke halaqah salaf, karena kalau dengar dari radio mereka, ternyata kedalaman ilmu para ustadz nya bagus sekali, berbeda sekali dengan halaqah saya yang sekarang ini, energi terkuras untuk kampanye.
Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh
titi
Jawaban
Assalamu ‘alaikum warhmatulalhi wabarakatuh,
Saya sangat yakin statemen yang antum sampaikan dalam pertanyaan ini berangkat dari rasa haus untuk belajar Agama Islam. Memang ada banyak pilihan untuk itu, salah satunya ikut halaqah seperti yang antum ceritakan.
Saya sangat mengerti kekecewaan antum saat ini, karena apa yang antum harapkan untuk dapat belajar ilmu syariah ternyata tidak terpenuhi. Alih-alih buka kitab, halaqah yang antum ikuti hanya membicarakan urusan politik dan politik saja. Bahkan kadang hanya berisi perintah-perintah untuk memenangkan kandidat dari partai tertentu.
Partai tertentu? Ya, terus terang sajalah, PKS gitu loh.
Terus mana ngajinya? Kok kampanye melulu? Sedikit-sedikit pilkada, sedikit-sedikit pemilu, sedikit-sedikit memenangkan calon kandidat.
Wah..wah.. Itu barangkali yang antum pertanyakan. Maunya belajar urusan syariah dan agama, kok ujung-ujungnya malah berpolitik sih?
Sebenarnya yang mengadu seperti antum bukan cuma satu orang, justru hampir setiap saat saya menerima pengaduan persis dan mirip dengan apa yang antum sampaikan. Antum adalah orang yang ke-1.000 yang mengeluh seperti ini ke Saya.
Walau pun tindakan selanjutnya bisa beda-beda. Ada yang tetap meneruskan ikut halaqah, tapi bersikap kritis. Sampai-sampai dicap sebagai ceriwis, tukang kritik dan nyebelin oleh Sang Murobi.
Ada lagi yang malas hadir di halaqahnya. Datang pengajian kalau pikiran lagi terang saja. Tapi kalau lagi jutek, ya sudah tidak usah datang saja. Nonton TV di rumah atau sekalian jalan-jalan ke Mal.
Yang lain juga malas-malasan datang ke halaqahnya, tapi masih agak sedikit lebih sopan, yaitu cari-cari alasan yang ‘agak syar’i', misalnya menunggu orang tua yang sakit, atau pura-pura sakit, padahal cuma jempolnya cantengan. Sama sekali tidak ada.
Yang lebih ekstrem memang banyak juga, yaitu berhenti atau keluar dari halaqah. Dan model begini juga macam-macam judulnya. Ada yang berhenti dari halaqah terus balik lagi jadi seperti sebelumnya. Pergaulannya, akhlaqnya, cara pandangannya, serta kepribadiannya, jadi agak jauh dari apa yang sering digambarkan sebagai aktifis. Sekedar untuk tidak menggunakan istilah jahiliyah.
Tapi yang loncat ke harakah atau jamaah lain juga tidak sedikit. Sebagian memang ada yang pindah ke aktifitas dakwah lain, misalnya majelis dzikir, atau tasawuf, bahkan juga ke jamaah tabligh. Dan salah satunya ya seperti antum itu, pindah ke salafi.
Ada beberapa alasan yang paling sering dikemukakan tentang pindah ke salafi ini. Salah satunya memang persis seperti yang antum ceritakan, yaitu ada kesan bahwa di Salafi itu ustadz-ustadznya sangat paham agama. Bicaranya tidak pernah keluar dari Quran dan Sunnah.
Buat beberapa kalangan, tawaran seperti ini cukup menarik memang. Walau pun juga bukan tanpa kritik. Yah, mana ada sih jamaah atau pengajian yang sempurna. Kalau mau dicari-cari, pasti semua ada kekurangannya. Istilah para pujangga, tiada gading yang tak retak.
Teman-teman yang tergabung dengan salafi ini memang cukup banyak diminati, terutama oleh orang-orang yang mengalami kasus mirip antum. Beberapa masjid di Jakarta yang saya tahu persis dulunya dibina dan diaktifkan oleh para kader dakwah, kini lebih sering menggelar pengajian yang nara sumbernya dari kalangan salafi.
Lalu apa yang salah dari salafi? Bolehkah kita ikut salafi?
Mungkin itu yang antum ingin tanyakan secara lebih tajamnya. Jawabnya ya pada hakikatnya kita tidak bisa membuat penilaian yang sifatnya hitam putih. Apalagi saya tahu persis bahwa teman-teman yang mengaku salafi itu ternyata terdiri dari berbagai kelompok juga, yang mana satu sama lain ternyata saling berbeda pandangan juga.
Mending kalau perbedaan itu hanya sebatas kulit, kadang perbedaan dan friksi di tengah teman-teman saya sendiri itu sampai pada wilayah -yang menurut mereka- termasuk wilayah aqidah dan urusan surga dan neraka. Bahkan tidak jarang saya dengar pula kalimat dan statement yang kurang enak didengar, entah melaknat, mencaci, memaki dan mentahdzir dengan sesama salafi juga.
Jadi ikut mengaji ke salafi memang agak rumit juga. Sebab jelas-jelas ada berbagai jenis salafi nih. Ada salafi A, salafi B, salafi C, salafi D dan bisa diteruskan sampai ZZZ. Ada salafi yang santun, baik dari segi bahasa dan sikap, tapi tidak jarang kita ketemu juga yang agak-agak gahar alias killer.
Ada salafi yang masih mau merujuk kepada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Biasanya teman-teman salafi yang pernah lulus dari Fakultas Syariah di LIPIA, agak lebih bisa menerima perbedaan pendapat. Tapi syaratnya, beliau lulus dari level Syariah, bukan sekedar I’dad Lughawi atau Takmili. Sebab Fakultas Syariah LIPIA itu kan jurusannya memang Muqaranatul Madzahib (Perbandingan Mazhab).
Sedangkan yang cuma lulus di Takmili atau hanya level I’dad Lughawi, memang tidak pernah belajar jurus-jurus perbedaan pendapat di kalangan ulama. Kalau terkesan suka menggurui dan memaksakan pendapatnya, wajar lah. Soalnya ilmu memang baru sampai disitu. Kuliah di LIPIA judulnya cuma mau belajar bahasa Arabnya, bukan belajar perbandingan madzhabnya.
Yang agak galakan dikit kalau keluaran langsung dari Yaman. Semisal murid-muridnya Syeikh Muqbil dan teman-temannya. Atau lulusan Madinah murid-muridnya Syeikh Dr. Rabi’ Al-Madkhali. Sebenarnya kalau kita teliti teman-teman salafi di Indonesia, yang mengaji langsung kesana tidak terlalu banyak. Yang banyak itu cuma murid dari murid alias cucu murid. Sebab Dr. Rabi’ Al-Madkhali sudah tidak lagi mengajar di Jamiah Islamiyah Madinah.
Pesan-pesan
Sebenarnya di Indonesia ini tidak sedikit kok orang yang memiliki ilmu agama yang tinggi. Kita punya banyak doktor ahli tafsir, ahli hadits, ahli fiqih dan bahkan kita juga punya kandidat doktor ahli Ushul Fiqh.
Dan bukan hanya dimiliki oleh kalangan salafi saja. Malah kalau saya amati, teman-teman di kalangan salafi itu belum terlalu banyak yang sudah sampai jadi doktor syariah.
Pesan saya sederahana saja. Kalau kita mau jadi jagoan bulu tangkis, wajar dong kalau kita belajar dari seorang Rudi Hartono, mantan juara All England 8 kali. Kalau kita mau jadi orang pandai dalam tata rambut, wajar juga kalau belajarnya kepada seorang Rudi Hadisuwarno, yang punya pengalaman. Dan kalau mau jadi ahli masak, nggak salah kalau belajarnya sama Rudi Chairudin yang wajahnya imut itu.
Maka saya sering katakan, bahkan kalau pun para murabbi di halaqah itu tidak bicara politik sekalipun, tapi bicara islam, tetap saja saya tidak menyarankan antum hanya belajar ilmu-ilmu agama dari mereka. Sebab umumnya para murabbi itu memang tidak menguasai ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu fiqih, ilmu ushul fiqih dan seterusnya. Paling-paling materi dasar semacam Makna syahadatain, Makrifatullah dan sejenisnya. Materi yang bisa dibaca sendiri atau bisa beli bukunya.
Yang antum butuhkan adalah kuliah di sebuah institusi resmi, dimana disana diajarkan berbagai ilmu-ilmu keislaman secara terstruktur. Dan yang lebih penting, dosen atau ustadznya juga bukan orang sembarang. Setidaknya secara formal adalah lulusan dari fakultas yang sesuai dengan ilmu yang diajarkannya.
Seharusnya halaqah-halaqah itu hanya sebuah proses penyaringan calon mahasiswa. Lulus halaqah, baru deh masuk ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu kuliah Agama Islam, dimana disitulah belajar agama yang sebenarnya.
Jadi dalam pandangan saya, harusnya para kader itu harus lulus fakultas syariah. Setidaknya dari sisi level keilmuannya, tiap kader harus sudah mendapatkan minimal 144 SKS. Entah bagaimana caranya, itu bisa-bisanya para pengelola harakah.
Kalau saya pribadi, saya lebih suka menyelenggarakan kuliah syariah via internet. Selain murah, juga fleksible. Siapa saja boleh ikutan, dan yang menarik, tidak harus hadir kuliah. Semua bisa dilakukan lewat internet. Begini saja, silahkan saja klik link ini ( www.kampussyariah.com ) untuk penjelasan lebih detail.
Bagaimana dengan pengajian di salafi?
Ya sama saja. Kalau yang mengajar hadits disana adalah seorang doktor di bidang ilmu hadits, tidak ada salahnya belajar dari beliau. Demikian juga kalau yang mengajar ilmu fiqih itu adalah doktor Fiqih, silahkan saja.
Tapi kalau cuma sekedar memaksakan pendapat golongan, atau menjelek-jelekkan para ulama, serta menuduh umat Islam yang tidak ikut mengaji kepada mereka sebagai orang sesat, ahli bid’ah, calon penghuni neraka, ya sama juga bohong. Antum tidak akan mendapatkan tambahan ilmu, tapi cuma tambah banyak musuh. Bukan tambah santun, tapi malah congkak, sombong, belagu dan kurang kerjaan.
Seharusnya seorang yang bertambah ilmunya itu semakin bijak, luas wawasan, jauh pandangan, tidak gampang suudzhan. Punya pemahaman yang tinggi atas realitas perbedaan dan khilaf di kalangan para ulama. Hatinya berisi semangat saling menghormati dan menghargai antar ulama, serta konsentrasi kepada kesatuan dan persatuan umat lewat kerukunan dan ukhuwah Islamiyah.
Seorang talibul ilmi seharusnya selalu ingin menjauhkan diri dari fanatisme buta, kultus individu, arogansi berpendapat, sikap saling cela, saling maki, saling ejek dan saling tuduh sesat antara sesama pendapat ulama.
Karena pada dasarnya seorang yang berilmu itu harus menjadi rahmat untuk semua elemen umat, bahkan untuk semua manusia. Bukan jadi biang keributan dan keresahan umat.
Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warhmatulalhi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc
http://warnaislam.com/syariah/daulah/2008/12/30/43740/Halaqah_Kok_Kampanye.htm