PPP Minta Syamsir Tak Jadi Politisi
JAKARTA – Kecaman Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Syamsir Siregar terhadap menteri asal parpol yang menerapkan standar ganda dalam menyikapi kenaikan harga BBM memerahkan telinga kalangan politisi Senayan. Mereka balik meminta Syamsir tidak ikut-ikutan mengurusi politik parlemen.
”BIN fokus saja pada fungsi dan tugasnya. Bukannya malah mengobral pernyataan politis,” kata Ketua Fraksi PPP DPR Lukman Hakim Syaifuddin di Jakarta kemarin (27/6).
Sebelumnya, Syamsir Siregar memang mengkritik perilaku menteri dari parpol yang masuk koalisi pemerintahan. Menurut pria yang akrab disapa Opung itu, para menteri tersebut setuju harga BBM naik, tapi fraksinya di DPR malah mendukung pengajuan hak angket.
Kubu politik yang dianggap mendua itu, misalnya, PPP, PKS, PAN, PKB, dan PBB. Kalau dari PPP, ada Menteri Koperasi dan UKM Suryadharma Ali serta Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah.
Lukman yang keberatan terhadap pernyataan kepala BIN itu mengingatkan bahwa salah satu tugas BIN adalah mendeteksi provokator yang kerap menimbulkan keresahan, mengusik ketenteraman, dan mengganggu keamanan. ”Jangan sampai (BIN, Red) malah menjadi provokator itu sendiri,” sindirnya.
Di tempat terpisah, anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Sarwono Kusumaatmadja juga mengkritik Kepala BIN Syamsir Siregar. Kali ini, berkaitan dengan pernyataan Syamsir yang menuding adanya keterlibatan salah seorang anggota DPR dalam demonstrasi menolak kenaikan harga BBM yang berakhir rusuh, 24 Juni lalu. Wakil rakyat itu disebut ikut mendanai demo tersebut.
”Dengan menyatakan suatu demo ditunggangi atau disusupi, itu stigmatisasi. Padahal, semua itu klise. Sama saja seperti berkata langit itu biru. Artinya, ini suatu proses yang sebenarnya tidak perlu dikomentari lagi,” katanya dalam diskusi di gedung DPD kemarin.
Ketua Umum Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem) PDIP Budiman Sudjatmiko yang ikut menjadi salah satu pembicara juga mempersoalkan pernyataan Syamsir. Di negara mana pun, menurut dia, BIN tidak bertugas membuat pernyataan politik, melainkan mengumpulkan dan mengolah informasi. ”Intelijen harus diam-diam, bukan untuk tampil,” ujarnya. Baca terus →